Ratusan Warga Padati Rutinan Khotmil Qur’an di Punden Makam Eyang Tumenggung Banjarsari

Ratusan Warga Padati Rutinan Khotmil Qur’an di Punden Makam Eyang Tumenggung Banjarsari

 

Mojokerto majapahitpos.com– 3 mei 2026. Ratusan warga memadati Punden Makam Eyang Tumenggung di Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, dalam kegiatan rutinan yang digelar pada Minggu pertama bulan Mei 2026.

 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Paguyuban Rutinan Khotmil Qur’an Makam Banjarsari ini mengusung tema “Khotmil Qur’an dan Doa Bersama kepada Leluhur dan Ahli Kubur.” Acara tersebut menjadi ajang syiar agama sekaligus wujud bakti kepada orang tua dan leluhur yang telah wafat.

 

Penanggung jawab kegiatan, Hadi Purwanto, menyampaikan bahwa ziarah kubur merupakan bagian dari syiar agama yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

 

“Nabi bersabda, dulu aku melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziarahlah, karena mengingatkan pada akhirat,” ujar Hadi mengutip hadis riwayat Muslim.

 

Menurutnya, kegiatan ziarah bukanlah bentuk penyembahan terhadap kuburan, melainkan sebagai pengingat kehidupan akhirat sekaligus sarana pendidikan bagi generasi muda.

 

“Ini syiar. Mengajarkan anak bahwa hidup ada akhir, mati ada hisab. Sekaligus bukti kita tidak durhaka dan tidak lupa asal-usul,” jelasnya.

 

Hadi juga menegaskan bahwa bakti kepada orang tua atau birrul walidain tidak berhenti meskipun orang tua telah meninggal dunia. Ia menjelaskan beberapa bentuk bakti tersebut, seperti mendoakan, melunasi utang, menyambung silaturahmi dengan kerabat orang tua, serta bersedekah atas nama mereka.
Ia pun mengutip hadis riwayat Muslim bahwa amal manusia terputus setelah meninggal dunia, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.

 

“Doa kita ke leluhur itu seperti kiriman paket pahala. Mereka senang di alam barzah, kita juga mendapat pahala bakti,” tambahnya.

 

Lebih lanjut, Hadi menyebut bahwa tradisi nyekar merupakan bagian dari kearifan lokal yang selaras dengan ajaran Islam.

 

“Selama tidak ada unsur syirik atau meminta-minta kepada kuburan, maka ini merupakan bentuk syiar Islam Nusantara yang indah,” ujarnya.

 

Sementara itu, Penasihat Jemaah, K.H. Hasan Mathori, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa rezeki yang berkah harus diiringi dengan ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh.

 

“Kegiatan ini berisi shalawat, Khotmil Qur’an, kalimat thayyibah, dan doa bersama.

 

Orang yang rutin mengikuti kegiatan seperti ini biasanya bertambah rezekinya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar umat tidak meninggalkan amalan tersebut saat berada dalam kondisi lapang.

 

“Jangan sampai ketika rezeki melimpah, justru meninggalkan ibadah. Itu bisa mencederai hubungan dengan Allah, dan rezeki bisa saja dicabut kapan saja,” tegasnya.

 

Menurut Hasan, keberkahan rezeki tidak hanya diukur dari jumlah, tetapi juga dari keselamatan yang diberikan Allah dari berbagai ujian.

 

“Pertahankan doa. Doa adalah senjata umat Islam. Penyakit yang paling dibenci adalah rasa malas dan bosan. Hindari itu agar kita terus mendapat keberkahan,” pungkasnya.

 

Kegiatan rutinan ini diharapkan terus menjadi wadah mempererat silaturahmi masyarakat sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.(Sunarmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *